Ricky Nelson Jalan Unik Sang Arsitek Lapangan

Brad Crawford

Ricky Nelson Jalan Unik Sang Arsitek Lapangan

Wilwatikta.ac.id, Jakarta – Kiprah Ricky Nelson di kancah sepak bola nasional adalah sebuah anomali. Sosok pelatih yang kini dikenal luas ini meniti jalan yang jauh dari konvensional, sebuah perjalanan yang bermula dari impian pemain, berbelok ke dunia futsal, dan bahkan menempuh pendidikan teologi. Kisah uniknya ini menjadi inspirasi bagi banyak pihak, menunjukkan bahwa takdir terkadang membawa seseorang melalui rute yang tak terduga menuju puncak.

Lahir di Kupang, Nusa Tenggara Timur, pada 25 Juli 1980, Ricky Nelson muda memiliki ambisi besar untuk menjadi pesepak bola profesional. Namun, realita lapangan dan kondisi kompetisi saat itu memaksa Ricky Nelson menempuh jalur yang berbeda. Impiannya untuk bersinar sebagai pemain profesional harus kandas, terutama setelah gejolak kompetisi pada tahun 1997/1998 yang membuatnya kesulitan menemukan celah.

Ricky Nelson Jalan Unik Sang Arsitek Lapangan
Gambar Istimewa : cdn1-production-images-kly.akamaized.net

“Di 2009 sebenarnya. Itu saya keluar dari NTT tahun 1998 pas lagi rusuh-rusuhnya. Habis SMA ke Jakarta. Di Jakarta kuliah, ya sambil cari-cari kesempatanlah mau main bola,” ungkap Ricky Nelson, seperti yang ia bagikan melalui kanal YouTube Sport77 Official belum lama ini. “Tapi karena saat itu kompetisi berhenti tahun 1997/1998, nah jadi mikir lagi. Begitu tahun 2000-2001, mau coba lagi sudah telat. Karena dulu itu kan seleksinya enggak semudah sekarang.”

Ia menambahkan, “Sekarang ini kan dengan lihat di Instagram, semua internet yang begitu luas semua bisa gampang banget dapat seleksi. Kalau dulu itu, kalau kita enggak kenal seseorang misalnya, ya sudah enggak bisa.”

Banting Setir ke Futsal dan Jejak Awal Kepelatihan

Gerbang seleksi yang tertutup rapat, terutama bagi “anak daerah” tanpa koneksi, membuat Ricky Nelson memutuskan banting setir. Ia menyadari bahwa peluangnya di sepak bola sebagai pemain sangat tipis. “Jadi sangat sulitlah buat kita masuk, apalagi anak daerah. Waktu itu NTT enggak pernah lolos PON, enggak punya klub,” kenangnya.

Tanpa ragu, pada tahun 2001, Ricky Nelson mengambil langkah berani dengan terjun ke dunia futsal, bukan sebagai pemain, melainkan langsung sebagai pelatih. Ia bahkan menjadi salah satu angkatan pertama pelatih futsal di Indonesia, bersama nama-nama seperti Justin Lhaksana dan Donni Zola.

“Ya sudahlah, akhirnya saya berpikir, saya lari ke futsal dulu malah. Nanti bisa tanya Justin Lhaksana. Saya 2001 masuk pelatih futsal malah, di Kelme Futsalismo pertama,” ujarnya. Meski usianya masih sangat muda, sekitar 21-22 tahun, ia merasa memiliki kemampuan untuk memahami permainan dan lebih cocok di sisi teknis. “Meski masih muda, tapi saya merasa punya kemampuan untuk memahami permainan. ‘Wah, ini kayaknya ngelatih lebih okelah daripada jadi pemain’. Karena kalau jadi pemain fisik saya sudah enggak kuat.”

Dari Mimbar Gereja ke Lapangan Hijau: Sentuhan Teologi dalam Olahraga

Yang lebih mengejutkan, fondasi pemahaman Ricky Nelson terhadap dinamika olahraga justru terbentuk saat ia menempuh studi di jurusan Teologi, bukan fakultas keolahragaan. Sebuah pilihan yang sangat tidak biasa bagi seorang calon pelatih.

“Beda nih. Kuliah saya Teologia sebenarnya. Sekolah pendeta. Jadi kalau diceritan belok-belok sebenarnya,” tukasnya sambil tertawa kecil. Di lingkungan gereja, ia bertemu dengan seorang individu dari Inggris yang kemudian mendirikan Inspire Bandung di Lembang. Dari sana, Ricky Nelson mendalami konsep “sport ministry” atau pelayanan olahraga.

“Kita di situ ada sebuah komunitas yang mengajarkan pelayanan ke olahraga. Jadi sport ministry kita menyebutnya. Akhirnya saya tertarik ke situ. Dari sport ministry saya belajar soal banyak hal-lah,” jelas Ricky Nelson. “Bagaimana di Olimpiade mereka mengajarkan soal, apa itu motivasi sebagai seorang atlet. Nah, itu semualah saya belajar di situ. Baru masuk kemudian masuk ke sepak bola.”

Buah Manis Perjuangan dan Liku-liku Karier

Perjalanan berliku Ricky Nelson akhirnya membuahkan hasil manis. Kerja keras dan keunikan latar belakangnya membawanya ke posisi-posisi penting di kancah sepak bola nasional. Ia pernah dipercaya sebagai pelatih sementara Persija Jakarta, Direktur Akademi Persija, pelatih kepala Persipura Jayapura, pelatih kepala Sulut United, hingga pelatih kepala PON NTT.

Kisah Ricky Nelson adalah bukti nyata bahwa kegagalan di satu jalan bisa membuka pintu menuju kesuksesan di jalan lain, dan bahwa pendidikan di luar jalur konvensional pun bisa menjadi bekal berharga dalam membentuk seorang pemimpin di dunia olahraga. Dari mimbar gereja hingga lapangan hijau, Ricky Nelson telah mengukir jejaknya sendiri sebagai salah satu arsitek strategi sepak bola yang paling unik di Indonesia.

Also Read

Tags

Tinggalkan komentar