Sejak bergabung dengan Madura United pada pertengahan 2024, gelandang berdarah Indonesia-Belanda, Jordy Wehrmann, telah mengukir banyak pengalaman berharga. Namun, di antara semua itu, petualangannya di AFC Challenge League 2024/2025 menjadi sorotan utama, menyajikan kisah-kisah tak terlupakan dari dinginnya Mongolia hingga hangatnya dukungan di Taiwan.
Perjalanan menuju Mongolia bukan sekadar perpindahan geografis, melainkan juga pergeseran iklim ekstrem yang jarang dirasakan oleh mayoritas penggawa Laskar Sape Kerrab. “Perjalanan sangat panjang, dari Jakarta, Beijing, dan Mongolia, sangat jauh dan sangat dingin,” kenang Wehrmann dalam wawancara eksklusif dengan Wilwatikta.ac.id, baru-baru ini.

Momen itu menjadi pengalaman unik bagi tim. “Mayoritas orang Indonesia tidak pernah melihat salju kan, jadi ketika kami tiba di Mongolia para pemain seperti bingung,” imbuhnya sembari tersenyum, menggambarkan betapa asingnya pemandangan salju bagi rekan-rekannya yang terbiasa dengan iklim tropis.
Dukungan Luar Biasa di Tanah Rantau
Kontras dengan suhu beku di Mongolia, babak perempat final di Chinese Taipei menyuguhkan kehangatan yang luar biasa. Saat Madura United bertandang ke markas Tainan City, mereka disambut lautan suporter Indonesia yang bekerja di sana. Fenomena ini menjadi bukti nyata betapa kuatnya ikatan diaspora dengan tanah air.
Dukungan tersebut melampaui loyalitas klub. “Banyak pekerja Indonesia, mereka fans Persebaya, Persib, Persija dan Madura bermain di saja, mereka datang untuk mendukung kami. Mereka tidak hanya datang mendukung Madura tapi mendukung Indonesia,” jelas Wehrmann, menyoroti semangat persatuan yang ditunjukkan para diaspora.
Jejak Manis di Semifinal
Perjalanan Madura United di kompetisi level ketiga Asia itu terbilang impresif, berhasil menembus babak semifinal sebelum akhirnya dihentikan oleh wakil Kamboja, Svay Rieng. Meski demikian, pencapaian tersebut tetap menjadi kebanggaan tersendiri bagi klub dan para penggemar, menunjukkan potensi sepak bola Indonesia di kancah internasional.
Wehrmann sendiri bukan nama baru di kancah sepak bola. Lulusan akademi Feyenoord ini pernah merasakan manisnya juara Piala Swiss bersama Luzern, sebelum akhirnya memutuskan untuk menjajal tantangan di Liga 1 Indonesia.
Kini, jejak Madura United di AFC Challenge League menjadi tolok ukur bagi tim Indonesia lainnya, termasuk Dewa United yang akan segera berlaga di perempat final. Kisah Jordy Wehrmann, dengan segala suka dan dukanya, menjadi pengingat akan kekayaan pengalaman yang ditawarkan sepak bola, dari dinginnya lapangan bersalju hingga hangatnya pelukan dukungan dari tanah rantau.






