Ayam Kinantan, julukan PSMS Medan, tak pernah surut asa. Setelah terperosok ke Liga 2 sejak 2018, klub kebanggaan Sumatera Utara ini bertekad kuat untuk kembali menjejakkan kaki di kasta tertinggi sepak bola nasional. Di bawah arahan pelatih Eko Purjianto, semangat kebangkitan terus dikobarkan.
Ambisi besar ini bukan tanpa alasan. Dengan sejarah panjang dan basis suporter yang loyal, PSMS Medan menyimpan asa untuk mengulang masa kejayaan. Presiden klub, Fendi Jonathan, menegaskan bahwa status di Liga 2 saat ini justru menjadi pemantik semangat, bukan beban. “Ini bukan tekanan, justru memicu semangat dan motivasi saya,” ujar Fendi dalam wawancara di kanal YouTube Bicara Bola. Ia menambahkan, “Sebagai anak laki-laki, kami punya ego dan harga diri. Ini adalah motivasi kuat untuk membawa klub kembali ke Liga 1.”

Meski demikian, Fendi Jonathan realistis terkait target musim berjalan. Dengan persiapan yang sangat mepet, hanya satu bulan untuk mencari pemain dan melakoni latihan perdana, ia mengakui tantangan yang dihadapi. “Untuk musim ini, peluangnya mungkin 70/30,” ungkapnya jujur. Ia menceritakan bahwa saat ia mengambil alih, skuad Ayam Kinantan benar-benar kosong. “Saat latihan pertama di bulan Agustus, hanya ada 16 pemain. Kami harus mengisi tim secara bertahap karena kontrak pemain lama sudah habis dan mereka pindah ke klub lain,” jelas Fendi. Namun, berkat ketekunan, perubahan positif mulai terlihat di putaran kedua, meski belum signifikan.
Fendi Jonathan menekankan bahwa strategi yang dijalankan berorientasi jangka panjang, bukan sekadar solusi instan. “Saya selalu berpikir ini untuk jangka panjang, bukan jangka pendek,” tegasnya, menunjukkan komitmen terhadap pembangunan klub yang berkelanjutan.
Karakter permainan PSMS yang khas, dikenal dengan gaya ‘rap-rap’ dan umpan-umpan pendek, akan tetap dipertahankan. “Secara teknis, strategi di lapangan adalah wewenang pelatih. Namun, filosofi dan karakter PSMS, dengan passing-passing pendek dan gaya rap-rap, harus tetap melekat,” papar Fendi Jonathan, memastikan identitas tim tak akan luntur.
Menjadi presiden klub di tengah situasi sulit tentu bukan perkara mudah. Fendi Jonathan mengakui berbagai tantangan, terutama dalam merekrut pemain berkualitas. “Tidak hanya di PSMS, setiap klub pasti punya kesulitannya. Dalam kondisi klub yang sedang tidak baik-baik saja, mencari pemain bagus menjadi tantangan tersendiri,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa pemain-pemain lokal yang memiliki nama dan kualitas cenderung memilih berkompetisi di Liga 1. Namun, semua kesulitan ini dihadapi dengan satu tekad bulat: mengembalikan kejayaan PSMS Medan.
(Dilaporkan oleh Wilwatikta.ac.id,)






